Wisata Dieng, 02 November 2016

Vulkanisme Dataran Tinggi Dieng

Dataran Tinggi Dieng terbentuk dari letusan Gunung Api tua yang mengalami penurunan drastis (dislokasi), oleh patahan barat laut dan tenggara. Gunung Api Tua itu adalah Gunung Prau. Pada bagian yang ambles itu, muncul gunung-gunung kecil yaitu di antaranya : Gunung alang, Gunung Nagasari, Gunung Gajah Mungkur, Gunung Panglimunan, Gunung Pangonan, dan Gunung Pakuwaja.




Beberapa Gunung Api masih aktif dengan karakteristik yang khas. Magma yang timbul tidak terlalu kuat seperti Gunung Merapi. sedangkan letupan-letupan yang terjadi adalah karena tekanan air bawah tanah oleh magma di dalam reserfoir bumi yang menyebabkan munculnya beberapa gelembung-gelembung kecil lumpur panas. Fenomena ini antara lain terdapat di area Kawah Sikidang dan Kawah Candradimuka.
Secara Geologis, Daerah ini merupakan daerah Pasca Vulcanik (post volcanik areas). Hal ini di tandai dengan munculnya titik atau pusat erupsi yang tersebar di beberapa tempat berupa eksalasi Gas Solfatara dan Fumarola.

Gejala Pasca Vulcanik

Aktifitas Vulkanisme mengalami perkembangan, dari kegiatan yang lemah meningkat ke tekanan yang lebih kuat sampai pada suwatu waktu mencapai puncaknya suwatu letusan. Kemudian aktifitasnya menurun untuk naik lagi pada periode yang hampir sama. Dengan demikian, orang dapat mencatat kegiatan Gunung Api. Namun akhirnya sebuah Gunung Api akan berhenti dari kegiatanya. Gunung Api seperti ini dinyatakan telah mati.

Tentunya matinya sebuah Gunung Api tidak berarti hilang dari suatu kegiatanya, yaitu dengan mengeluarkan gas, merambatkan panas yang dimilikinya pada air yang mengalir serta melarutkan mineral-mineral batuan di sekelilingnya dan keluar sebagai mata air panas ( hot spring water). itulah yang di sebut Gejala Pasca Vulcanik (post volkanism).
Sumber gas yang di keluarkanya :
  1. Gas belerang, sumber itu dinamakan Solfatara
  2. Gas uap air atau gas lemas (N2), dinakan Fumarola 
  3. Gas asam arang (CO2 atau CO) gas berbahaya, karena gas tersebut dapat mematikan mahluk hidup di namakan Mofet.
Di daerah Kepundan Gunung Api, orang mempunyai lapangan pekerjaan mengusahakan penambangan belerang dengan jalan menyublim ges belerang yang keluar dari Solfatara itu sehingga di peroleh gas belerang dalam wujud kristal. Belerang merupakan komoditi ekspor di samping untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Sumber uap air panas yang keluar dengan tekanan tinggi dikenal sebagai sumber tenaga Geotermal. Di Jawa Barat (Kamojang), di Jawa Tengah (Dieng) dan di Sulawesi Utara. Sumber Panas Bumi secara berangsur-angsur di manfaatkan untuk pembangkit tenaga listrik dari sumber ini. 

Untuk eksploitasi Geotermal itu, Indonesia mendapatkan bantuan dari New Zealend yang telah banyak memanfaatkan Geotermalnya. Italia juga telah banyak memanfaatkanya pembangkit listrik dari Geotermalnya. Sehingga negara tersebut telah dapat mengekspor tenaga listrik ke negara tetangga seperti Swiss.

Sumber gas asam aram dapat muncul di sembarang waktu di kepundan Gunung Api manapun. Oleh karena itu petugas dari Dinas Gunung api telah di tugaskan di posnya yang di tempatkan di sekitar Kepundan Gunung Api dengan terus-menerus memantau aktifitas Gunung Api ersebut, agar dapat memperingatkan orang yang datang ke daerah Gunung Api, ketika Gunung Api mengeluarkan gas Co2 atau gas beracun.
Kadang-kadang gas beracun itu keluar dengan waktu secara tiba-tiba seperti yang terjadi di Kawah Timbang dan Kawah Sinila di sebelah barat Dieng, Jawa Tengah yang terjadi pada tahun 1979. Penyebab gas beracun di daerah ini ialah Erupsi Freatik yang membobolkan kantong tempat gas racun itu sedang dalam terkonsentrasi. Ledakan gas beracun yang terjadi di Kawasan Dieng dulu menjadikan penduduk yang sedang tertidur menjadi terjaga tanpa tahu kemana mereka harus menghindar, sehingga menghamburlah mereka untuk lari. Jatuhlah korban pada waktu itu karena terkena gas beracun, sekitar 149 orang korban meninggal. Kelompok lain yang tidak melalui daerah beracun itu terselamatan sampai ke kampung lain.

Gas Racun itu terutama terdiri dari Karbon Monoksida (CO), dan Karbon Dioksida (Co2), Hidroksida (belerang), Oksida (sulfur), dan chloor. Namun jika gas tersebut tdk dalam terkonsentrasi, lepas ke udara dan terbawa angin, gas tersebut tidak berbahaya dan bersifat netral.
Sumber gas semacam itu terdapat juga di daerah lain seperti di Tangkuban perahu, Papandayan, Ciremai, dan Ijen.

PENGARUH VULKANIK TERHADAP KEHIDUPAN

  1. Pengaruh Membahayakan Gunung Api
Pengaruh Gunung Api adalah kenyataan adanya kegiatan vulkanisme, dapat di bedakan atas yang membahayakan dan menguntungkan. 
Pengaruh yang membahayakan dapat di rasakan dari letusan yaitu :
  • Letusan yang melemparkan Piroplastik besar, yaitu bom, lapili, dan pasir vulkanik yang menimpa rumah, daerah pertanian dan tempat lain mahluk hidup. Rumah-rumah dan bangunan lain roboh, pohon-pohon tumbang, jalan rusak, sungai terbendung, ddan lain sebagainya.
  • Hujan Abu Vulkanik, Seperti yang di alami orang di sekitar Gunung Api meletus, kecuali pemandangan menjadi gelap pada saat Gunung Api itu meletus. Timbunan abu yang tebal menutupi lahan pertanian dan perkebunan.
  • Leleran Larva, yang panas merusak apa yang di laluinya, dan setelah beku akan menjadikan bebatuan yang keras sehingga menghambat pertumbuhan tanaman.
  • Awan Panas, (nee ardante) yang meluncur dengan kecepatan tinggi dan tidak kelihatan, yang dapat mematikan penduduk dan mahluk hidup lainya yang berada di sekitar lereng Gunung Api tersebut.
  • Aliran Lahar Hujan, merupakan bencana yang terjadi setiap tahun, menjadikan aliran sungai seperti Sungai Krasak yang terdapat di Jawa Tengah, menjadi dangkal dan berpindah-pindah.
  • Aliran Lahar Erupsi, seperti yang terjadi di Gunung Kelud yang menimbulkan korban yang tidak sedikit.
  • Gas Racun, yang sewaktu-waktu bisa mengancam penduduk dan mahluk hidup lainya yang berada di sekitar daerah gas tersebut.
2. Pengaruh Menguntungkan Gunung Api

Namun jika di bandingkan dengan bahaya Gunung Api, masih banyak lebih memberikan keuntungan di antaranya :
  • Abu Vulcanik, yang menutupi daerah pertanian itu hanya merusak dalam waktu yang tidak lama, karena selanjutnya tanah daerah itu berubah menjadi lebih subur dari sebelumnya. Kesuburan dari letusanya itu, dapat bertahan dari berpuluh-puluh tahun.
  • Pirosplastika sebesara apaun, lama-kelamaan akan hancur menjadi tanah. Tanah dari benda fulcanik inipun sangat banyak mengandung unsur minereal hara.
  • Gunung Api merupakan Daerah Penangkap Hujan yang baik. Di sertai kesuburan tanahnya, Gunung Api merupakan daerah hutan lebat yang rimbun. Dengan demikian, Gunung Api merupakan tempat Reserfoir air tanah yang baik. Tanpa gangguan tangan jahil manusia, hutan Gunung Api memberikan perlindungan kekeringan kepada manusia pada musim kemarau dan banjir pada musim hujan. Gunung Api juga dapat memberikan hasil hutang yang bernilai tinggi, asal manusia dapat di atur dalam pemanfaatanya.
  • Gunung Api merupakan Daerah Wisata yang Menarik, kapundenya yang aneh, pemandanganya yang indah, udaranya yang sejuk, serta alamnya yang ganas dan menantang untuk olanh ragawan dan pecinta alam untuk wisata pendakian.
  • Bahan Galian Btuan Malihan, tidak sedikit hasil yang di peroleh dari Gunung Api. Baik pada saat Gunung Api itu masih aktif, seperti belerang, batu bangunan, tras, batu apung, dan sebagainya, maupun Gunung Api itu telah lama beristirahat, seperti besi. baja, perak, emas, perunggu, dan logam lainya.
  • Banyak pula batuan malihan akibat persinggungan magma dengan mineral tertentu, sehingga terbentuk Deposit Mineral baru yang lebih berharga, seperti temba, dan batu pualam kokas.
3. Aspek Sosial

Indonesia merupakan daerah Gunung Api di Dunia, mempunyai sekitar 149 pusat aktifitas Gunung Api (Bamelen,1970). Letusan Gunung api ini di beberapa tempat telah menyebabkan bencana, terlebih di daerah yang padat penduduknya seperti di Pulau Jawa.