Wisata Dieng, 11 Oktober 2016

Telaga Merdada

Telaga Merdada berlokasi di Desa Karang Tengah,Batur,Banjarnegara, atau sekitar 15 menit dari kawasa Wisata Dieng. Telaga Merdada merupakan telaga terluas di Dieng yang mempunyai luas sekitar 20 Ha, dengan kedalaman sekitar 25 Mpdl. Anehnya, telaga ini untuk mata airnya tidak bersumber dari mata air bawah tanah atau sungai melainkan dari air hujan yang tertampung. Karena itu, apa bila jika pada waktu musim kemarau telaga ini mengalami penyurutan air hingga kadang sampai terliha dasar tlaga ini.




Legenda Telaga Merdada 


Berdasarkan kisah yang berkembang di sekitar penduduk setempat, kata Merdada di ambil dari bagian bawah Cupu Manik Astagina yaitu mardida (kisah pewayangan).

Adalah seorang resi yang sakti mandraguna yaitu Resi Gautama. Dia mempunyai dua orang putra kembar yaitu Guwarso dan Guwarsi, serta seorang putri yang berparas jelita yaitu Dewi Anjani. Pada suwatu hari dua orang kembarnya berburu ke suwatu hutan. Setelah berburu di tengah rimbanya hutan belantara, akhirnya mereka berhasil mendapatkan seekor rusa. Dengan hati penuh kegembiraan dibawalah pulang hasil buruan mereka untuk di hadiahkan kepada adik mereka.


Jauh dari perkiraan Guwarso dan Guwarsi, Dewi tampak kurang tertarik dengan hasil buruan kakak-kakaknya yang sengaja di berikan kepada adiknya. Dewi anjani ternyata memilih mengurung diri di dalam kamar dari pada harus bermain-main bersama rusa hasil tangkapanya. Hal yang aneh padahal Dewi Anjani sangatlah suka dengan hewan rusa. Di dorong rasa penasaran dengan sikap aneh adiknya yang lain dari biasanya, si kembar mengendap-endap ingin tau dan menuju kamar adiknya dan secara diam-diam mereka mengamati apa yang sedang di lakukan adiknya di kamar.
Terlihatlah di dalam kamar ternyata Dewi Ajani sedang mengeluarkan sebuah benda yang bungkus kain putih dan memendarkan cahaya keemasan. Dewi Anjani memerhatikan benda yang berpendar tersebut, ternyata dua kakaknya mngetahui apa benda tersebut yang sedang di pegangnya yang tak lain lagi adalah sebuah cupu, yaitu Cupu Manik Astagina. Konon, Aapabila bagian bawah cupu ini di buka maka akan terlihat apa isi seluruh dunia, dan sedangkan apabila tutupnya yang di buka maka akan terlihatlah seluruh isi dan apa yang sedang terjadi diSorga Loka.

Sebenarnya yang berhak menerima Cupu Manik ini sebagai harta warisan adalah salah satu dari dua perjaka kembar itu. Mengetahui hal tersebut, maka dua si dua kembar berusaha merebut benda tersebut dari Dewi Anjani. perebutan benda tersebut antara si kembar dan Dewi Anjani ternyata di ketahui oleh ayah mereka.

Resi Gautama cepat-cepat teriak dan memanggil ibunya untuk menanyakan dari mana asal Cupu manik itu, namun istrinya tidak langsung menjawab. Dia merahasiakan asal-muasal cupu tersebut yang sebenarnya merupakn pemberian salah satu Dewa yang menaruh hati kepadanya. Dia teringat pesan sang dewa yang menyuruhnya untuk merahasiakan benda pemberianya.
Merasa kesal dengan sikap istrinya yang seolah sedang merahasiakan sesuwatu yang beberapa kali di tanya namun dengan komitmenya hanya diam seribu bahasa dan yang seakan tidak menghiraukan kemarahan suaminya_  yang pada akhirnya Resi Gautama murka sehingga keluarlah perkataan yang tidak di sengaja, mengutuklah Resi Gautama kepada istrinya menjadi tugu batu, yang karena di dalam hati resi tersiratlah istrinya bagaikan batu yang hanya diam membisu. Yang kemudian cupu tersebut di lemparkanya ke udara. Cupu bagian bawah (Mardida) jatuh ke tanah yang menjadikan sebuah kubangan yg menjadi Telaga Merdada yang dalam kisah pewayangan dinamakan Tlaga Sumala. Sementara tutupnya yang dinamakan Dringo terlempar ke puncak bukit yang menjadikan sebuah Telaga Dring, dalam kisah pewayangan dinamakan (Nirmala).

Dikisahkan pula, Raden Guwarso dan Guwarsi dalam perjalananya mencari Cupu Manik Astagina, sampai ke tepi Telaga Merdada. Cahaya yang keemasan yang terpancar dari dalam Telaga Merdada memancing kesimpulan dalam benak mereka bahwa cupu tersebut berada dan jatuh ke dalam Tlaga Merdada, maka tanpa berpikir panjang mereka berdua langsung terjun dan menyelam mencari cupu yang di yakini ada di dalam telaga tersebut, sampai-sampai berkelahilah kedua kembar tersebut di dalam telaga untuk saling berebut mengejar asal cahaya yang terpancar keemasan yang sumbernya di dalam telaga tidak bisa di ketahui dari arah mana letaknya.

Berjam-jam di dalam telaga, namun tidak berhasilah mendapatkan Cupu Manik Astagina dan tetap nihil hasilnya dan cupu tersebut tidak di ketemukan di tlaga. Setelah merasa lelah mengentaslah dan keluarlah dua kembar saudara tersebut. Sekeluarnya mereka dari dalam tlaga, terkejutlah mereka saling pandang satu sama lain dan tanpa duga ternyata wajah mereka berdua sudah berubah berbulu mnjadi kera. Yang di namai oleh ayahnya Resi Gautama anatara Raden Guwarso dan Guwarsi di ganti Subali dan Sugriwa.

Peristiwa yang di alami oleh dua saudara kembar serta Dewi Anjani, diyakini sebagai akibat dari kenakalan serta kerakusan mereka. Hingga saat ini kisah tersebut menjadi sebuah pesan moral yang sampai saat ini menjadi turun-temurun di kawasan penduduk Dieng.
Apabila jika anda berkesempata untuk jalan-jalan di sekitar Dieng, Orang tua akan meneriakan "Ojo Podo Kerah,Ngko Mundak Dadi Kethek Karo Lutong" (bahasa jawa) yang artinya, Janganlah Pada Bertengkar,Nanti Menjadi Kera Dan Lutung. Sebuah peringatan kepada anak-anaknya agar tidak nakal dan rakus, serta harus tetap patuh pada nilai-nilai luhur. Serta kepada Orang Tua bahwa, apabila mengeluarkan suwatu perkataan haruslah berkata yang baik apalagi ketika sedang marah, karena perkataan adalah sebuah doa, dan doa yang di kabulkan tidak semua yang bersifat baik semata, perkataan tidak baikpun ternyata bisa di ijabahi, yang tidak ubahnya suwatu kutukan.
Yang dalam maksud ini kera dan lutung di simbolkan sebagai lambang keburukan yang patut di hindari, karena sifat kera adalah suka berebut makanan yang di dapatkan.

Sementara itu, Cupu Manik Astagina yang telah berubah menjadi telaga, hingga sekarang masih memancarkan cahaya keemasan dalam waktu-waktu tertentu. Konon, apabila seseorang duduk dan berdoa di tepi telaga tersebut akan di kabulkan doanya serta mendapat pencerahan.