Wisata Dieng, 11 Oktober 2016

DIENG CULTURE FESTIVAL 7 2016

Senyum sumringah Bocah-bocah lugu diatas kereta kuda di arak keliling Desa di ikuti iring-iringan orang-orang mengenakan baju tradisional jawa serta atraksi kesenian angklung tek-tek dan Tari Rampak Yaksa membuat suasana siang itu terasa hikmat dan damai.
Ada yang tidak biasa dengan bocah-bocah diatas kereta Kuda tersebut. Rambut bocah-bocah tersebut tidak seperti anak-anak pada umumnya. Terutama pada bentuk rambutnya yang agak aneh. pada-ujung-ujung rambut bocah-bocah tersebut ada semacam gumpalan rambut yang menyatu, atau yang biasa kita kenal dengan istilah rambut Gimbal. Gimbal pada rambut anak tersebut bukanlah Gimbal buatan karena mengikuti mode, atau gimbal karena kurang terurus.

Mitos Dan Legenda Anak Beranbut Gembel Dieng



Anak berambut Gimbal yang banyak dijumpai di Daerah Dataran Tinggi Dieng adalah titisan Kyai Kolodete, pendiri pemukiman di Dieng. Rambut Gimbal pada bocah-bocah tersebut hanya boleh dipotong melalui upacara ritual pemotongan dengan Runtutan dan persyaratan tertentu. Jika rambut tersebut dipotong tanpa melalui ritual. maka rambut Gimbal tersebut akan tumbuh lagi. Itulah mengapa dalam acara pemotongan rambut gimbal sebagaimana yang akan diadakan pada DIENG CULTURE FESTIVAL ini, anak-anak berambut gimbal tersebut akan diperlakukan bak raja sehari, dimana apa yang dimintanya akan dituruti.

TENTANG DIENG CULTURE FESTIVAL 2016


Kebudayaan adalah Pilar Peradaban, Maka dengan cara apapun, Upaya untuk terus menjaga dan melestarikan Budaya sangat penting untuk dilakukan agar warisan nenek moyang dimasa-lalu tetap hidup di generasi sekarang dan juga generasi anak cucu kita di masa depan.
Upaya-upaya untuk melestarikan budaya lokal bisa dilakukan dengan berbagai cara. Dieng Culture Festival adalah salah satu manifestasi dari semangat untuk menjaga dan melestarikan Khasanah Budaya lokal khususnya Warisan budaya di Dataran Tinggi Dieng.


Festival Budaya Dieng tidak hanya ditunggu-tunggu oleh masyarakat Dieng tapi juga mereka penikmat khasanah Budaya lokal .  Selain dalam rangka  melestarikan Budaya Daerah, Acara yang rencananya akan digelar pada tanggal  5,6, & 7 Agustus 2016 tersebut sekaligus merupakan pesta rakyat bagi penduduk Desa Dieng dan sekitarnya dimana pada hari itu akan digelar berbagai macam atraksi budaya mulai dari pentas kesenian hingga pameran Produk kerajinan dan seni khas Dieng.

RAGAM ACARA DALAM DIENG CULTURE FESTIVAL

Di Dieng Culture Festival pengunjung bisa menyaksikan sajian perpaduan yang apik antara budaya tradisional dan trend budaya kekinian dalam beragam acara yang disajikan sepanjang even ini berlangsung.
Ada beberapa Program acara yang paling ditunggu-tunggu di event Dieng Culture Festival. Berikut beberapa diantaranya :

  • Ruwatan (Potong) Rambut Gimbal
  • Jazz atas Awan
  • Festival Lampion
  • Pesta Kembang Api
  • Festival Film Dieng
Selain acara diatas DCF juga diramaikan dengan pentas seni budaya,  Pergelaran Wayang Kulit, Pameran Kerajinan dan Produk seni Lokal dan lain-lain.


Ritual Pemotongan Rambut Gimbal


Tradisi ini merupakan tradisi yang ada di Dataran Tinggi Dieng, di sekitar daerah ini banyak anak-anak yang berambut Gembel, yang menurut cerita masyarakat sekitar merupakan titipan dari Kyai Kolodete dan Nini Roro Ronce. Dan rambut gembel tersebut di anggap sebagai "bala" yang harus di ruwat melalui acara tradisi "ruwatan". Upacara ini biasanya di adakan setelah si anak mempunyai permintaan atau jejaluk kepada orang tuanya. Anehnya apabila acara ruwatan pada anak berambut gembel tidak di laksanakan atas permintaanya sendiri, maka sekalipun sudah di potong rambutnya namun gembelnya akan tumbuh kembali.
Rambut gembel tumbuh dengan sendirinya pada anak-anak. Penyebabnya sampai saat ini belum jelas. Pada saat masih bayi, gembelnya pada anak tersebut belum terlihat, selang bberapa tahun sebelum gembelnya tumbuh biasanya anak tersebut mengalami demam terlebih dahulu dengan di tandai dengan suhu panas tubuh yang sangat tinggi, di sertai ngromel (jawa) atau menggigau pada waktu tidur (gejala pesikis). Gejala - gejala ini tidak bisa di obati sampai nanti sembuh dengan sendirinya, dan dengan berjalanya waktu pada waktu itu si anak akan tumbuh gembelnya.

Sebelum di adakan pencukuran Rambut Gembel, terlebih dahulu di adakan Prosesi Napak Tilas. Prosesi ini dilakukan satu hari sebelum di adakanya ritual pencukuran yang di pimpin oleh sesepuh desa atau pemangku adat dan bersama beberapa tokoh masyarakat untuk mengunjungi ke beberapa tempat yang di anggap sakral (suci), yaitu pertama ke Candi Dwarawati, Komplek Candi Arjuna, Sendang Sedayu atau Sendang Maerokoco, Candi Gatutkaca, Tlaga Balekamban, Candi Bima, Kawah Sikidang, Pertapan Mandalasari (goa-goa di area tlaga warna), dan tempat lain seperti mengunjungi pemakaman, dan terahir Tasyakuran atau Slametan yang bertujuan untuk minta keselamatan dan kelancaran dalam acara Ritual Rambut Gembel.

Prosesi Ritual Rambut Gembel

  • KIRAB

Kirap Rambut Gembel merupakan suwatu perjalanan arak-arakan menuju tempat ritual pencukuran rambut gembel yang dimulai dari rumah sesepuh atau pemangku adat, yang pertama menuju Sendan Sedayu atau Sendang Maerokoco, dengan terlebih dahulu keliling desa dimana anak-anak gembel di kawal oleh para sesepuh Dieng, para tokoh masyarakat, kelompok kesenian tradisional, dan masyarakat. Barisan kirab terdiri dari barisan utama oleh dua tokoh sesepuh Cucuk Ing Ngayodyo, dua orang pembawa dupa (tungku penolak balak), dan para prajurit pembawa benda pusaka seperti keris,tobak,dll. Di teruskan dua orang pembawa bunga Cucuk Lampah, selanjutnya di teruskan oleh kelompok pembawa permintaan anak rambut gembel, dan kelompok rombongan yang membawa sesaji atau ubo rampe. Dan tentunya rombongan anak-anak berambut gembel yang dinaikan oleh andong atau kereta kuda, dan barisan paling belakang adalang anggota kesenian tradisional yang nantinya akan pentas seni yang di khususkan untuk menghibur anak gembel setelah di potong rambut gembelnya dan masyarakat pengunjung pada umumnya.

  • JAMASAN

Dalam bahasa jawa Kromo, Kata Jamasan berasal dari kata Jamas yang artinya membersihkan atau memandikan. Istilah Jamasan umumnya digunakan dalam prosesi pemandian Pusaka. namun di Dieng, dalam prosesi jamasan yang dimandikan adalah Bocah berambut Gimbal dengan mengunakan air yang berasal dari Tuk Bimalukar, Tuk Sendangbuana, Tuk Kencen, Tuk gua Sumur serta dari sungai Kali Pepek dan Tuk pitu yang kemudian dicampur bunga tujuh Rupa (dimana pitu atau tuju di artikan sebagi : pitutur,pituduh,dan pitulung dari yang maha kuasa). Dan setelah selesai penjamasan, anak-anak rambut gembel di lanjutkan untuk memasuki area ritual pencukuran

Prosesi Jamasan biasanya dilakukan ndipenghujung acara Pemotongan rambut Gimbal, tepat sebelum Bocah gember dibawa menuju tempat pencukuran.

  • PENCUKURAN

Dalam pemotongan Rambut Gembel di lakukan oleh para tokoh masyarakat yang di dampingi oleh pemangku adat langsung. Setelah pencukuran rambut gembel selesai di lanjutkan tasyakuran dan pemanjatan doa-doa, dan ubo rampe semuanya di bagikan kepada semua pengunjung karena ubo rampe tersebut di percaya membawa berkah bagi yang mendapatkanya.

  • PELARUNGAN

Larungan Rambut Gembel adalah prosesi terahir ritual, yaitu sisa-sisa rambut gembel hasil pemotongan di larungkan kesungai serayu yang nantinya akan menuju ke laut selatan.

JADWAL  ACARA DIENG CULTURE FESTIVAL

Sebagai gambaran umum, Run Down atau  urutan acara dan Jadwal Dieng Culture Festival  bisa anda lihat disini

Untuk Pemesanan Paket Wisata Dieng Culture Festival IV,  klik: DIENG CULTURE FESTIVAL