Wisata Dieng, 02 Oktober 2016

Batu Ratapan Angin - Batu Pandang

Dieng merupakan Gunung bekas vulkanik purba yang sudah tidak aktif lagi. Dalam sebuah letusan gunung, tentu saja akan meninggalkan sisa pahatan alam berbukit-bukit bebatuan yang menonjol tak beraturan dan tebing-tebing yang menonjol bahkan bisa menjadikan fenomena yang artistik seperti Batu Ratapan Angin atau Batu Pandang yang berada di atas area Tlaga Warna, tepatnya di kaki Gunung Sikendil yang masuk dalam wilayah Dieng Wetan, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Dimana Gunung Sikendil yang di gunakan sebai Petilasan Eyang Kolodete yang di percaya sebai Anak Berambut Gimbal Dieng.



Batu Ratapan Angin merupakan dua buah batu besar yang berdampingan dan terletak di atas bukit yang berdampingan dengan lokasi Dieng Plateau Theate, area ini mnjadi tempat yang setrategis untuk memanjakan mata dengan keindahan alamnya yang di hiasi dengan lembah Tlaga Warna dan Tlaga Pengilon dan dengan hamparan background lukisan alam yang begitu mempesona. Ibarat kanvas yang telah di lukis, kesempurnaan tlaga warna dapat di nikmati secara detail dari atas batu yang membentuk agak kotak dan yang satunya lagi berdiri kokoh disampingnya, hembusan angin sering terasa kencang nan sejuk dan menimbulkan suara mendesis seperti orang meratapi kesedihan, dan barangkali itulah kenapa dua buah batu ini yang di namakan Batu Ratapan Angin.


Di ceritakan bahwa pada masyarakat jaman dulu, kejadian sebuah tempat biasanya dikaitkan dengan yang mengiringnya seperti halnya dengan Batu Ratapan ini yang dikaitkan dengan sebuah cerita tentang kesetiaan dan penghianatan. Konon pada jaman dulu dulu hiduplah seorang pangeran tampan dan putri cantik jelita yang menjadi pasanganya mereka hidup rukundengan penuh cinta, perjalanan merekapun sering menjadi bahan cerita dimana-mana bahkan di jadikan teladan hidup bagi masyarakatnya. Nasib orang siapa yang tahu, dan cobaan hidup siapa yang akan tahu pula, sampai cobaan tersebut sampai menimpa manusia. Seiring perjalanan kisah cinta sepasang umat manusia tersebut mendapat cobaan yang sangat berat dengan hadirnya orang ketiga yang menggoda sang putri, intrik-intrik cintapun datang sampai mengganggu pasangan keduanya, sang putri yang semulanya cinta pada sang pangeran lama-kelamaan mulai goyah imanya, dan ahirnya terjerat pada hubungan cinta yang terlarang, penghianatan-penghianatan dan kebohongan mulai di lancarkan demi untuk menutupi aib perselingkuhanya dengan kekasih gelapnya kepada sang pangeran. Namun sebuah keburukan, akan di tutupi serapat apapun suwatu saat pasti akan terbuka juga. Kabar tentang hal tersebut lama-kelamaan terdengar juga pada rakyatnya dan sang pangeran. Secara sembunyi-sembunyi sang pangeran menyelidiki apa yang selama ini terdengar dan yang di beritahukan oleh sang ajudanya.
Bagai di sambar petir, betapa kagetnya sang pangeran ketika menyaksikan sendiri, pasangan hidupnya sedang memadu kasih dengan kekasih gelapnya di hutan sebelah atas telaga warna, bukan hanya pangeran yang terkejut, ssan putripun tidak kalah terkejutnya menyaksikan kedatangan suaminya yang telah di khianatinya, percekcokan terjadi antara ketiga orang tersebut, berkali-kali sang putri meminta maaf sambil menangis dan meratap-ratap pada sang pangeran, akan tetapi kekasih gelap sang putri justru melakukan hal keji akan membunuh sang pangeran, Pangeran yang terkenal sakti dan mandragun ahirnya mengerahkan ilmu kanuragan yang di milikinya untuk melawan kekasih gelap sang putri. Angin beliung yang datang dengan sangat dahsyat datang di lokasi tersebut, dan banyak pohon yang tumbang dan tercerabut dari akarnya,berporak-porandaklah bebukitan tersebut di sela-sela kemurkaan sang pangeran mengutuk keduanya menjadi batu yang terduduk dan kekasih gelapnya menjadi batu yang berdiri.
Setelah kejadian tersebut beberapa lama kemudian dengan kesetiaanya masih mengunjungi tempat ini, untuk memastikan keduanya masih disana dan di jadikan pelajaran hidup untuk rakyatnya tentang kejujuran dan pengkhianatan.
Angin di lokasi ini terkadang berhembus kencang dan membentur dinding-dinding bukit yang menimbulkan suara aneh. "Ini adalah suara ratapan penyesalan dari keduanya", kata sang pangeran kepada rakyatnya. Kemudian sejak saat itu batu yang bertengger dan bersebelahan di dinding bukit tersebut dinamakn Batu Ratapan Angin.